Welcome Blogger

Welcome to my personal blog that consist of opinion, story, information sharing about travelling, culture, poem, public relation, marketing and branding. Feel free to blogwalking and click HERE to follow this blog

Ecommerce is Sexy, But Not Easy

Ecommerce is Sexy, But Not Easy (*)

“With nearly a third of its 250 million population able to access the Internet, 
7 in 10 of whom do so on their smartphones.” 

Ecommerce have the unique opportunity to focus on developing convenient platforms and support e-market growth. Similar to China’s online marketplace in the beginning, ecommerce industry in Indonesia has large pool of entrepreneurial sellers providing goods purchased based largely on social media recommendations.

In May 2016, the Association of Internet Service Providers in Indonesia (APJII) announced that Internet penetration in Indonesia has now reached 40% of the total population roughly 100 million internet users. Emarketer added that the number of smartphone users in Indonesia is estimated to rise from 55 million in 2015 to 92 million in 2019. -Indonesia-investment, sept 2016-

Also, with the most attractive emerging middle-classes in the world, Indonesia has a ready captive market for ecommerce industry. According to a Boston Consulting Group (BCG) survey, the number of middle-class is set to increase to 141 million people by 2020, up from 88 million on last 2014.

Is it sexy enough??


The 2016 Global Investment Trends Monitor report, issued by the UN Conference on Trade and Deveopment (UNCTAD), puts Indonesia in 9th position on its lits of top prospective host countries for foreign direct investment (FDI) from 2016 to 2018, up from the 14th position in last 2014 – The Jakarta Post, Oct 2016

Well, Indonesia is the home of a growing ecommerce sector. Over the past a year, we’ve seen many ecommerce born in this sector than ever before. That was a hot year! Business insider quote that by 2020, it is projected to reach US$130 million, which will make Indonesia become the third largest e-commerce market, behind China and India. The signs that can be positive booster for all player, and hope it can make Indonesian ecommerce into the mainstram conversation in Asia. Liputan6 quote that based on Badan Pusat Statistik (BPS), total ecommerce in Indonesia is around 26,2 million, increase 17% than previous year.

Good to see that online shopping reach 5% or more of the nation’s overall retail sector. Or when traditional on demand transportation, food and shopping services help the customer needs and make SME (small and medium-sized enterprises) go digital for better performance. Also when online marketplace like tokopedia, bukalapak, blibli, continue to dominate the industry.

But still, what’s going on with this industry?

Same with other market, Indonesian ecommerce has its own set of challenges for any player, founders and investors. After logistic problem, weak payment infrastructure, and fragmented market which not secret anymore, Indonesia has cultural challenges that need to be noticed.

Low penetration of online payments

Similar with early emarket in U.S. which was flooded with customers that wary to trust online payments. Cash on delivery still become the most favorite payment method for customers, eventhough it will bring risk for the ecommerce.

Payments are complicated and are often being declined by customers. Bank transfer and cash on delivery still become the queen for the payment in this sector. User friendly, safe and trusted online payment are dream for the further epayment development in ecommerce.

Slowly, but not easy, ecommerce, bank and telco company try to create trusted solution to utilize online payments could lead the huge growth. Beside debit and credit card, Indonesia market enlivened by the presence of Mobile wallet like Mandiri Ecash, Tcash, Indosat dompetku, XL tunai, IB Muamalat.

Cultural Challenges

Two cultural challenges that looks very interesting quoted by techinasia. First, Locals have a strong tendension to finding the best prices at all costs. Shoppers actively seek out promotions and hunt the deals. All players that plan to open here, needs to completely understand and rethink strategies about the lowest price they can offer while still being survive and getting closer to profit. Second, big-budget competitors will make the player need to find extra multiple ways to differentiate their own unique selling points (USP) from these existing big player.

How many players who will think that profit will follow when the company growth? Otherwise, how many of them will think to increase orders as many, no matter how much money will be spent? Some of players may think how to making profit. They reduce operational cost, marketing cost, learn more about the market, find the Unique selling points, trial error of product development, rebuild the strategy, and finally grow slowly. They think hard about the brand itself. Meanwhile, some of players think how to grow very fast, big budget with big impact, try to dominate the market and become the big player.

Which one do you prefer? Finally, you choose!

Maybe, some us forget to reanalyze and think hard about the DNA of the brand itself. Forget to define our brand architecture or brand uniqueness. Maybe, we ignore to getting closer with audience and find out what their need, what they want, or what make them convenient. Maybe, some of us too hastily to moving so fast with some fast way to increase the transaction with very short term marketing activities, without thinking how much money that we’ve burn.

Well, ecommerce is sexy but not easy...



*Article Tittle Inspiration: Dicky Haris Hidayat - PhD Student Norges Teknisk-Naturvitenskapelige universitet

LARA LANA...

Lalu perasaan itu, rasa rindu yang kita ungkap hati-hati
Pelan sekali, hingga kita terbenam dalam hangat yang menjatuhkan…
Memporakporandakan pikiranmu dan pikiranku.
Memecah konsentrasi yang semula kita rancang masing-masing.
Aku dan kamu…
Kita terjatuh dan terhempas tanpa mampu saling menyelamatkan

Ini bukan cinta…
Hanya rasa sesaat yang tak layak dipertaruhkan.
Kita tak pantas saling bersama…
Karena terjebak pada kisah yang terlarang.
Kita tak pantas bicara rindu…
Karena cinta itu menjaga, bukan saling menyakiti.

Kita terdiam dalam lara,
Yang semakin menyiksa jika dibiarkan bersama.

Terimakasih karena pernah hadir
Terimakasih karena pernah menggurat kisah…
Kisah tentang kita yang tak bisa menyatu,
bahkan sejak pertama kali kita bertemu

Kita hanya perlu saling melepaskan.
Kamu berjalan ke arahnya, sementara aku berbalik pada dia yang pernah singgah.

Menjauh tak berarti benci
Hanya perlu berjarak, agar tahu bagaimana caranya memaafkan diri sendiri.

Ada kerisauan yang terus menerus mengikuti
Secercah rasa bersalah yang tak henti menghunus tajam
Seolah perisai yang siap menikam ketika aku kembali pada ingatan tentangmu,
Satu-satunya masa lalu yang tak ingin aku ulang keberadaannya… 

Dosa Termanis dalam Kelam Penceritaan

Aku mendiami senja yang kala itu meratap manis,
dengan lembayung sederhana yang mewarisi semburat jingga.
Mengesankan langit maha eksotis dalam tatap nanar,
Menjadikan masa lalu selayaknya laboratorium kehidupan dalam observasi tingkah laku sang subjek.

Kamu, adalah satu-satunya masa lalu yang tak ingin aku ungkap keberadaannya.
Masa lalu yang ingin aku tanggalkan hingga tak lagi tersentuh.
Dosa termanis yang ingin aku tutup dalam lembar kelam penceritaan.
Membiarkannya tetap berada pada pintu terlarang yang akan selalu tertutup.

Aku minta maaf…
Pada rangkaian kesalahan yang tak pernah sengaja dihantarkan sang pemanah hati.
Maaf…
Karena tengah hadir dan menghancurkan tatanan kehidupan yang telah kamu ciptakan bersamanya.
Maaf…
Karena pernah bersamamu adalah kesalahan terbesar yang tak bisa dimaafkan.

Pernah tahu bagaimana rasanya menyalahkan diri sendiri terus menerus?
Atas kebohongan yang selalu aku abaikan keberadaannya,
Atas kesalahan yang membuatku membenci diri sendiri.
Hingga pergi dan tak kembali adalah satu-satunya cara agar aku bisa memaafkan diriku.

Ada kalanya keheningan adalah hadiah terbaik.
Satu-satunya perantara yang mampu masuk ke dalam pemikiran tidak bertuan,
Tanpa pernah bertendensi untuk menyalahkan.

Aku membiarkanmu berdiam saja di sana,
Pada bagian terjauh yang tak mampu tergapai hati.
Pada sudut tertutup yang tak pernah lagi ingin aku singgahi.
Karena mengingatmu, hanya akan menghadirkan percik rasa bersalah yang terus menerus menghantui.
Membelenggu dengan rangkaian kesalahanku yang tidak termaafkan ketika aku berhadapan dengan sosok lain
Memburuku dengan dogma yang menghujat,
Seolah semua mata menghunus tajam tanpa bisa aku kendalikan.

Hal terbaik dari sebuah perpisahan adalah penerimaan tanpa penghabisan,
Karena melupakan adalah upaya terkeras yang tak akan membuahkan hasil.
Kita pernah kesulitan untuk melupakan.
Katamu, ini bukan tentang bisa melupakan atau bukan…
Ini tentang sebuah keharusan
Sementara masa tengah beranjak tanpa pernah memihak,
Aku dan kamu telah melangkah kembali pada jalan semula.
Menyusuri kisah, bersama sosok yang telah kita temukan.
… dan kita pilih masing-masing

Aku menjauh hingga perlahan kita akan mampu berjalan pada arah masing-masing
Tanpa perlu saling menghiraukan,
Tanpa perlu kembali menoleh,
Tanpa perlu kembali menautkan asa,

Karena kamu… adalah dosa termanis yang tak pernah ingin aku ulang keberadaannya.



Diskursif Cinta

Diskursif Cinta

“Sedang berada pada kondisi dimana saya kesulitan untuk berpikir.
Biasanya saya pergi ke mana, Tuhan akan ikut beritahu arahnya.
Saya pergi lagi, dan Tuhan masih menemani untuk beritahu jalannya.
Kali ini… Saya yang harus berhenti
dan mengikuti kemana Tuhan mau saya melangkah.”
- Dari sebuah pendopo usang di pinggiran ibukota -

 
Selamat pagi, malam….

Ada perbincangan sederhana yang menggenapi malam hingga terlihat tidak sepekat biasanya. Melaju tanpa alur yang mengisahkan, lantas kembali tenggelam pada sinar sang peraduan.

Ada yang menarik tentang angan yang bersimpuh pada sebuah nama yang tengah mengelak cinta. Menghardik sapa yang tak terhantarkan, lantas sedang bersiap menghilang tanpa ucap kata tersahutkan.

Aku terhenti pada titik kulminasi,
tempat di mana kejenuhan mencapai tingkat tertinggi dalam pusara.
Aku terhenti pada keengganan bahwa ternyata aku jatuh cinta…
Pada apa-apa yang tidak pernah aku ketahui dimana arahnya.
Aku jatuh cinta…
Pada rangkaian kehilangan yang mengelak tanpa mampu tertahan,
pada sengketa rasa yang membuatnya terperosok lebih dalam lagi.

Bersama kamu, aku tidak pernah berusaha menjadi yang paling hebat.
Bersama kamu, aku mengerti bagaimana caranya menundukkan ego yang seringkali terabaikan.
Bersama kamu, aku merasa cukup, tanpa ada tendensi untuk menjadi lebih.

Aku mencintaimu jauh sebelum aku menemukan ada nama lain telah tersemat dalam-dalam. Mengisi ruang hati yang kamu dedikasikan hanya untuknya.
Aku mencintaimu tanpa peduli apa yang pernah terjadi di masa lalumu.
Aku mencintaimu dengan semua bentuk penerimaan yang bahkan tidak bisa ditoleransi.

Tapi, kini…
Aku kehabisan tenaga untuk membuktikan ada cinta yang ingin terus-terusan kuhabiskan bersamamu.
Aku kelelahan untuk meyakinkan diri bahwa kita terbentang jarak sebegitu jauhnya.

Jarak antara Tuhanku dan Tuhanmu yang tak pernah bisa kita jembatani.
Jarak antara aku dan kamu yang tak bisa kita lalui karena ada sosok lain yang lebih dulu hadir mengisi tahun-tahun terakhirmu menghabiskan masa kesendirian.

Kamu tahu, sayang?
Ada cinta yang hadir begitu saja, tanpa bisa dicegah.
Ada cinta yang menyeruak, tanpa pernah diminta untuk hadir
Ada cinta yang muncul, tanpa perlu masa pencarian yang tidak berkesudahan.
Dan itu kamu…
Kamu datang begitu saja, tanpa bisa aku kendalikan.
Kamu dan aku berharap menjadi kita, yang lantas bertemu di satu titik. Masa dimana cinta hadir dan membuatku (mungkin kamu) enggan beranjak.

Aku tengah menghancurkan benteng pertahanan diri untuk kemudian memilih masuk ke dalam dirimu. Menyatu dalam setiap detak nafas yang terhembuskan.
Aku tengah melebur bersama sebagian diriku, ketika memilih bersamamu yang tak pernah bisa kumiliki seutuhnya.

Aku pernah besenda dalam gurau ketika pernah ingin memilih untuk mengikutimu.
Ada hal yang sempat terbersit ketika berpikir bahwa kamu adalah satu-satunya alasan yang ingin aku perjuangkan.
Entah hingga di titik mana…
Kita hanya sedang menghitung waktu…
Bersama-sama menunggu hari dimana kita akan menghentikan langkah.

Selamat Pagi, Malam....

Kita... dan Sekumpulan Persepsi Identitas


Beberapa bulan terakhir, ada banyak hal di sekeliling yang memaksa untuk dihadapkan pada perubahan-perubahan tidak disangka. Ingin rasanya berhenti sejenak, tapi selalu kesulitan untuk tahu bagaimana caranya menghentikan kata dalam jeda. Seolah dunia memaksa kita untuk terus mengikuti laju yang tak pernah kita ketahui kemana arahnya. 


Ada yang tersisa dari diskusi Jumat malam yang lalu. Perpaduan antara temaram cahaya ruangan dengan musik bersuara keras melebur dalam rangkaian rasa yang tertutupi ilusi keangkuhan emosi, tentang penerimaan yang tersamarkan atas identitas di luar diri. Hingga saya menghentikan laju pikiran, menyesap dalam sayup-sayup irasionalitas yang dikesampingkan.







Selamat datang Jumat malam...
Selamat tinggal ‘sejenak’ rutinitas para pencari nafkah Ibukota. Buruh-buruh kapitalis kelas menengah yang terjebak pada naungan identitas tertentu.

Kita terkadang ada dalam hubungan posisional antara ‘kita’ dan ‘bukan kita’ pada ranah situasi sosial. Tanpa sadar kita tengah terjebak dalam ketidaksiapan diri sebagai makhluk sosial terhadap hadirnya kemajemukan identitas, lantas bertendensi untuk menghardik identitas lainnya. Kenapa? Apakah untuk berdiri di atas identitas, kita harus meniadakan eksistensi identitas lainnya?

Melaju pada kondisi bahwa setiap individu dalam lingkup sosial, yang di dalamnya terdapat kelompok atas pemikiran tertentu bisa tercipta karena dasar pertemanan, kesamaan nasib, hingga kesamaan paham.  Masing-masing identitas ini yang akan memboyong seseorang terhadap rasa keterikatan terhadap identitas dan kelompoknya. Tak heran apapun yang dianggap baik dalam kelompoknya, akan dijadikan sebagai kitab suci yang memandu perjalanan identitas mereka. Tidak jarang, dalam fase ini mereka mengenyampingkan paham objektifitas yang telanjur dihempaskan. Pandangan negatif untuk mengabaikan seluruh ikatan dan kesetiaan di luar kelompoknya, dapat sangat berperan menghadirkan ketegangan sosial satu sama lain.

Terkadang, mengidentifikasi diri dengan pihak lain bisa menjadi terlalu sulit hingga mengaburkan celah-celah kebaikan yang harusnya terdeteksi sederhana. Awalnya saya pikir mungkin karena kita terlampau tinggi menganggap bahwa identitas diri kita lebih hebat dari identitas-identitas lainnya. Bahwa kita menganggap identitas kita adalah standarisasi atas kebenaran mutlak yang kita anut sendiri, hingga aspek identitas pihak lain terabaikan.

Buat saya, berdiskusi adalah satu cara untuk melakukan verifikasi atas kekeliruan yang mungkin hadir dalam diri. Seperti diskusi malam itu dan malam-malam sebelumnya. Saya seperti dihadapkan pada sebuah tamparan cantik bahwa saya pun hampir terjebak dalam justifikasi atas pemahaman sepihak yang belum lantas diverifikasi kebenarannya. Seolah tak sadar bahwa saya hampir terjatuh pada persepsi semata.

Mungkin ini juga yang tengah dialami pihak lain. Ketika mereka melayangkan justifikasi sepihak tanpa menyediakan ruang untuk pembelaan pada sang objek, maka mereka tengah menjadi raja atas subjek yang dihantarkan pikiran masing-masing. Entah bagaimana kabarnya kebenaran, mereka hanya peduli pada persepsi.

Lantas di mana letak salahnya?

Sepertinya tidak salah. Buat saya, akan jadi miris ketika persepsi yang mereka sampaikan telah patah oleh kebenaran sang objek, namun mereka tetap melahirkan persepsi negatifnya tanpa ampun. Dan akan menjadi sangat ironi jika sang objek melakukan justifikasi sepihak yang negatif atas apa yang telah dilantunkan sang subjek. Maka keduanya hanya akan menjadi individu-individu yang dipenuhi persepsi. 

Saya boleh tanya sesuatu?
Seberapa sering kita percaya akan suatu hal hanya berdasarkan asumsi yang dipercayai oleh kelompok dengan paham identitas yang kita geluti sehari-hari?
Seberapa sering kita menganggapnya sebagai sebuah kebenaran mutlak tanpa keinginan untuk menjalani proses verifikasi?
Kita hanya terlampau sering membiarkan pikiran kita diberangus begitu saja terhadap persepsi yang menomorduakan nalar dan fakta.

Kali ini, saya setuju dengan ungkapan dari David Hume, Sang Skeptik Klasik, bahwa kita ini hanyalah sekumpulan persepsi yang berbeda-beda, yang saling bergonta-ganti dengan kecepatan yang tak terbayangkan, dan dalam perubahan atau gerakan terus menerus. Bahkan dalam salah satu bukunya, Filsuf asal Skotlandia ini pernah menuliskan bahwa moral dan kritisisme bukanlah sesuatu yang berpijak pada pemahaman, melainkan sentimen dan selera manusia semata. (An Enquiry Concerning Human Understanding). Kalau sudah begini, maka kita membenarkan kemampuan panca indera dengan penggunaan nalar kita karena kita tidak mampu menghindarinya.

Well, selamat datang di dunia dimana persepsi dengan mudahnya bertransformasi menjadi sebuah ajaran kebenaran. Sementara fakta termarginalisasi begitu saja tanpa mampu mengetengahkan objektifitas.


*Pict source: pinterest

Tentang Kamu dan Barisan Dunia yang Tidak Bisa Kumengerti

Ada yang tidak bisa kumengerti tentang dunia kamu.
Tentang bagaimana kamu memejamkan mata,
Seperti ketika malam itu kamu terlihat lelah dan mencari sandaran tidak terlihat.

Ada yang tidak bisa aku mengerti tentang cara kamu mengolah rasa,
seperti ketika kamu menghembuskan asap rokok yang terus menerus aku minta untuk disudahi.

Ada yang tidak bisa aku mengerti tentang kamu,
seolah kamu adalah penyebab dimana alam semesta tak pernah berhenti berputar, 
dan aku terjebak di dalamnya tanpa pernah tahu bagaimana caranya berhenti.

Ada dunia yang menaungi kerisauanmu tentang kehidupan,
Sementara ada aku disampingmu,
Tapi kamu terlampau larut dalam rasa yang kamu diami sendiri.

Aku berhenti memintamu menghantarkan rasa,
jika kamu masih tenggelam pada duniamu.
Bukan untuk menyudahi apa yang tidak pernah kita mulai.
Tapi untuk membiarkanmu diam terlarut dalam dunia yang tidak pernah aku mengerti keberadaannya.

Karena hanya pada dunia tempatmu menjejakkan kehidupan,
Aku bisa melihatmu tersenyum tanpa lekas bisa kamu sudahi.

Aku mencintai keterdiamanmu pada dunia itu,
Aku mencintaimu pada rasa yang kuhantarkan diam-diam.
Ini tentang kamu... dan barisan dunia yang tidak bisa kumengerti.



 photo source: pinterest


Filosofi Kopi dengan Sentuhan Integrated Marketing Communication Sebagai Penguat Brand

Filosofi Kopi dengan Sentuhan Integrated Marketing Communication Sebagai Penguat Brand

Hari ini mari kita rayakan #30dayschallengewithoutcoffee dengan suguhan menarik dari Filosofi Kopi. Kata seseorang, anggap saja ini traktiran untuk bisa kembali menemukan dirimu sendiri. #FilosofiKopi

Saat dilihat lebih dalam, ada yang menarik dari kedekatan #Filosofikopi dgn sebuah konsep integrated marketing communication. #Brand

Mungkin #FilosofiKopi adlh satu dri sedikit film yg cukup mengoptimalisasi integrated marketing communication yg mumpuni. #Brand

Tepuk tangan untuk semua yang terlibat dalam proses film #FilosofiKopi dari pra hingga pasca produksi. #FilosofiKopi Jangan lupa utk social media. #Brand

Dimulai dari aktivitas para pemain #FilosofiKopi dalam kelas barista di salah satu kedai kopi yang turut mengangkat popularitas #Brand

Creative content yg diunggah di instagram pun turut mengangkat self belonging smua yg terlibat di film #FilosofiKopi #Brand

Penonton dan pembaca dibuat penasaran menunggu dgn smart content yg berkeliaran di instagram & twitter. Menarik. #FilosofiKopi

Offline activation roadshow sebelum, setelah movie launching jdi salah satu integrated marketing communication yg trlihat #FilosofiKopi

Tengok deh instagramnya #FilosofiKopi … Audience bisa ngeliat gimana harmoninya integrated marcomm yg dijalanin dgn strategy yg rapih. CLEAN

Kayaknya semua elemen digital, marketing & PR bisa dijahit dengan rapih dan bikin Brand #FilosofiKopi kelihatan kuat. Kuncinya CONSISTENCY

Sempat ada teman yg bilang, “Ngapain sih nonton film Indonesia? Nggak worthed it sama harga tiketnya.” No, Dude. You have to watch this #FilosofiKopi

----
"Sesempurna apapun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi. Punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan." #FilosofiKopi

“Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan tapi dua melenyapkan.” #FilosofiKopi

“Bahwa uang puluhan juta sekalipun tidak akan membeli semua yang sudah kita lewati. Karena kesempurnaan itu memang palsu.”  #FilosofiKopi

“Pada pekat hitamnya, kita tak perlu berpura-pura merupa-rupa. Biarlah kau dan aku menjelma apa adanya.”  — Elaine Deschamps. #FilosofiKopi

"Kopi yang enak akan menemukan penikmatnya." – Ben #FilosofiKopi

"jika hanya ambisi dan tanpa menggunakan hati nilainya nol besar” #FilosofiKopi

Filosofi Perfecto -- Sukses adalah wujud kesempurnaan hidup. #FilosofiKopi

“Kesempurnaan itu memang palsu. Ben’s perfecto tak lebih dari sekadar ramuan kopi enak.” #FilosofiKopi

Filosofi Kopi Tubruk -- Kenali lebih dalam dan terpukaulah oleh lugunya sebuah pesona. #FilosofiKopi

Kopi tubruk itu lugu, sederhana tapi sangat memikat kalau kita mengenalnya lebih dalam” Ben. #FilosofiKopi

“Kopi tubruk tidak peduli penampilan, kasar, membuatnya sangat cepat seolah tdk butuh skil khusus. Tapi tunggu sampai anda mencium aromanya” Ben #FilosofiKopi

“Kedahsyatan kopi tubruk terletak pada temperatur, tekanan dan urutan langkah pembuatan yg tepat. Akan sia-sia kalau kehilangan tujuan sebenarnya: AROMA” Ben #FilosofiKopi

“Aku diperalat oleh orang yg merasa punya segalanya, menjebak dgn tantangan bodoh yg cuma jdi pemuas ego semata” Ben #FilosofiKopi

“Aku terperangkap dlm kesempurnaan palsu, artifisial” Ben #FilosofiKopi



Filosofi Cappuccino -- Keseimbangan dan keindahan adalah syarat mutlak keberhasilan. #FilosofiKopi

“Cappucino, untuk orang yang menyukai kelembutan sekaligus keindahan. Ini kopi paling genit.” Ben #FilosofiKopi

“Untuk cappuccino dibutuhkan standar penampilan yang tinggi. Mereka tidak boleh kelihatan sembarangan, kalau bisa terlihat seindah mungkin.” #FilosofiKopi

Seorang penikmat cappuccino akan memandangi penampilan yang terlihat di cangkir sebelum menicip. #FilosofiKopi

Filosofi Tiwus -- Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya. #FilosofiKopi

Filosofi Macchiato -- Sendirian atau berdampingan hidup sepatutnya tetap penuh arti. #FilosofiKopi

“Kalau biji kopi mendapatkan gizi yang cukup, dia akan TUMBUH sehat” Pak Seno. #FilosofiKopi

#Gue nggak pernah becanda soal kopi” #FilosofiKopi

“Segala macam bisa teratasi. Dicari solusinya. Akan ketemu. Karena Cinta” Bu Seno #FilosofiKopi

“Kopi yang baik akan menemukan penikmatnya” #FilosofiKopi

“Masa lalu itu… Sekalipun menyakitkan. Saya selalu menjadikan itu kebahagiaan. Karena apa? Saya menjalankan semuanya dengan cinta” #FilosofiKopi

“Cinta karena datang nggak diundang, pergi juga nggak pamit. Tolong dipelihara” Pak Seno #FilosofiKopi

#FilosofiKopi mengingatkan bahwa kopi itu adalah minuman yang seimbang. Bahwa dalam secangkir kopi, rasa pahit dan manis itu setara. 

-----

Apa yang bikin seseorang merasa kecewa saat menonton film yang diadaptasi dari sebuah buku? Satu org menjawab “EKSPEKTASI” #FilosofiKopi

Penulis & Penonton punya cara mplementasikan kisah, sementara kita para pembaca juga punya peranan dalam interpretasi. #FilosofiKopi

 Kita hanya sering lupa bahwa ada perbedaan besar dalam peran sebagai seorang “pembaca” dan ‘Penonton’. #FilosofiKopi

Film #FilosofiKopi yang diadaptasi dari kumpulan cerpen Dewi Lestari membuat para pembaca tidak terjebak pada ekspektasi yang keterlaluan. 
Film #FilosofiKopi yang diadaptasi dari kumpulan cerpen Dewi Lestari membuat para pembaca tidak terjebak pada ekspektasi yang keterlaluan. 

Jalan cerita #FilosofiKopi yang dikembangkan tetap dikemas menarik. Membuat saya berpikir di tengah film ‘… ada ya adegan ini di buku’.

Chemistry antara Ben dan Jody dihantarkan dgn begitu memikat. Sementara muncul sosok perempuan bernama Elaine Deschamps. #FilosofiKopi

Sosok El di film ini dalam cerpen #FilosofiKopi justru adalah seorang bapak. Lagi2 film ini mampu mengendalikan ekspektasi pembaca

Buat saya, keberadaan sosok El ini seperti gula pada kopi. Sentuhan tambahan manis yang kalaupun tak ada, tak mengapa. #FilosofiKopi

Jangan buang tiket #FilosofiKopi bisa ditukar dengan secangkir kopi di beberapa kedai kopi. Konsep marcomm yg menarik utk sbuah film. #Brand

Keterlibatan pemain bukan hanya di film, tapi juga berusaha lebih dekat dgn audience. Caranya? Jdi barista lgsung #FilosofiKopi

Involve public to create the essential logo of #FilosofiKopi is a damn good concept to increase two way communication. #Brand

Perpaduan Digital & Offline brand strategy: Aplikasi khusus, audience bisa ikut nentuin logo yang cocok buat #FilosofiKopi Menarik! #Brand

To celebrate the official release of #FilosofiKopi the movie, they’re open agen. “FILOSOFI KOPI” di melawai.

Kalau di corporate ada CSR, #FilosofiKopi juga punya. 1 tiket yg kamu beli = mnyumbang satu benih kopi utk petani kopi Indonesia

#FilosofiKopi mengingatkan bahwa kopi itu adalah minuman yang seimbang. Bahwa dalam secangkir kopi, rasa pahit dan manis itu setara.

Find out creative content from Filosofi Kopi account on instagram. Follow @filkopmovie for further






Mencandui Sengketa Kisah

  Mencandui Sengketa Kisah

Hari ini saya kalah lagi…
Kembali kalah pada keadaan yang membuat saya harus membuka ruang
untuk kembali berpikir tentang kamu.

Ada kecemasan tidak terantisipasi…
Terbengkalai risau yang mengalunkan alunan persada kebimbangan.
Tertahan penetrasi kengkuhan yang mendiami segitiga pelantun kata.

Aku, kamu, kita…
Tengah berdiam pada satu masa…
Mengengadah pada rengkuhan alam yang menyibak rasa.

Dermaga itu mengesatkan pandangan
Mengayuh sampan kesendirian pada aliran yang mengarung
Menyapa setiap riak yang tersibak dari tiap hela pusaran samudera
Hingga benak terhalang kail yang melantun bisik
Hingga ada ragu semula terendap bising memudar
Hingga itu… Ada hati yang tengah tersentak.

  Mencandui sengketa kisah

  Meracuni bilah tajam arah pandang
  Pelan berbisik pada diam yang melata keheningan
  Tentang kamu yang mengubah muara menjadi pelabuhan
  Tentang aku yang terdiam pada renungan menipu
  Hingga aku dan kamu…
  Kita,
  Saling berbalik meraih sampan pengendali rasa
  Menuju dermaga berpelabuhan beda yang kita yakini masing-
masing.

Ada rindu pada distingsi yang semula menengahi aku dan kamu.
Membatasi setiap pertemuan yang tak pernah mengenal ikrar dan pertautan
Hanya ada aku dan kamu, tanpa pernah peduli kemana arahnya.
Berjalan parau pada setiap tapak tepian bumi

Mengimani setiap hela nafas sebagai jeda dari aral rindu tidak berkesudahan.
Aku menepi pada langkah yang menautkan kebimbangan
Pada rengkuh semesta yang mendiami setiap malam perenungan.
Tersisa sebongkah yang tak mengenal kata
Hanya sekilas yang berkilah pada rasa
Simfoni yang hilang melesat bergumam pada alunan
Diam melantunkan serpih kisah pemuja rindu


Membiarkan aku, kamu, kita… menghilang pada seruan pemangku semesta



Available on soundcloud: 

Background Rangka