Welcome Blogger

Welcome to my personal blog that consist of opinion, story, information sharing about travelling, culture, poem, public relation, marketing and branding. Feel free to blogwalking and click HERE to follow this blog

Kita... dan Sekumpulan Persepsi Identitas


Beberapa bulan terakhir, ada banyak hal di sekeliling yang memaksa untuk dihadapkan pada perubahan-perubahan tidak disangka. Ingin rasanya berhenti sejenak, tapi selalu kesulitan untuk tahu bagaimana caranya menghentikan kata dalam jeda. Seolah dunia memaksa kita untuk terus mengikuti laju yang tak pernah kita ketahui kemana arahnya. 


Ada yang tersisa dari diskusi Jumat malam yang lalu. Perpaduan antara temaram cahaya ruangan dengan musik bersuara keras melebur dalam rangkaian rasa yang tertutupi ilusi keangkuhan emosi, tentang penerimaan yang tersamarkan atas identitas di luar diri. Hingga saya menghentikan laju pikiran, menyesap dalam sayup-sayup irasionalitas yang dikesampingkan.







Selamat datang Jumat malam...
Selamat tinggal ‘sejenak’ rutinitas para pencari nafkah Ibukota. Buruh-buruh kapitalis kelas menengah yang terjebak pada naungan identitas tertentu.

Kita terkadang ada dalam hubungan posisional antara ‘kita’ dan ‘bukan kita’ pada ranah situasi sosial. Tanpa sadar kita tengah terjebak dalam ketidaksiapan diri sebagai makhluk sosial terhadap hadirnya kemajemukan identitas, lantas bertendensi untuk menghardik identitas lainnya. Kenapa? Apakah untuk berdiri di atas identitas, kita harus meniadakan eksistensi identitas lainnya?

Melaju pada kondisi bahwa setiap individu dalam lingkup sosial, yang di dalamnya terdapat kelompok atas pemikiran tertentu bisa tercipta karena dasar pertemanan, kesamaan nasib, hingga kesamaan paham.  Masing-masing identitas ini yang akan memboyong seseorang terhadap rasa keterikatan terhadap identitas dan kelompoknya. Tak heran apapun yang dianggap baik dalam kelompoknya, akan dijadikan sebagai kitab suci yang memandu perjalanan identitas mereka. Tidak jarang, dalam fase ini mereka mengenyampingkan paham objektifitas yang telanjur dihempaskan. Pandangan negatif untuk mengabaikan seluruh ikatan dan kesetiaan di luar kelompoknya, dapat sangat berperan menghadirkan ketegangan sosial satu sama lain.

Terkadang, mengidentifikasi diri dengan pihak lain bisa menjadi terlalu sulit hingga mengaburkan celah-celah kebaikan yang harusnya terdeteksi sederhana. Awalnya saya pikir mungkin karena kita terlampau tinggi menganggap bahwa identitas diri kita lebih hebat dari identitas-identitas lainnya. Bahwa kita menganggap identitas kita adalah standarisasi atas kebenaran mutlak yang kita anut sendiri, hingga aspek identitas pihak lain terabaikan.

Buat saya, berdiskusi adalah satu cara untuk melakukan verifikasi atas kekeliruan yang mungkin hadir dalam diri. Seperti diskusi malam itu dan malam-malam sebelumnya. Saya seperti dihadapkan pada sebuah tamparan cantik bahwa saya pun hampir terjebak dalam justifikasi atas pemahaman sepihak yang belum lantas diverifikasi kebenarannya. Seolah tak sadar bahwa saya hampir terjatuh pada persepsi semata.

Mungkin ini juga yang tengah dialami pihak lain. Ketika mereka melayangkan justifikasi sepihak tanpa menyediakan ruang untuk pembelaan pada sang objek, maka mereka tengah menjadi raja atas subjek yang dihantarkan pikiran masing-masing. Entah bagaimana kabarnya kebenaran, mereka hanya peduli pada persepsi.

Lantas di mana letak salahnya?

Sepertinya tidak salah. Buat saya, akan jadi miris ketika persepsi yang mereka sampaikan telah patah oleh kebenaran sang objek, namun mereka tetap melahirkan persepsi negatifnya tanpa ampun. Dan akan menjadi sangat ironi jika sang objek melakukan justifikasi sepihak yang negatif atas apa yang telah dilantunkan sang subjek. Maka keduanya hanya akan menjadi individu-individu yang dipenuhi persepsi. 

Saya boleh tanya sesuatu?
Seberapa sering kita percaya akan suatu hal hanya berdasarkan asumsi yang dipercayai oleh kelompok dengan paham identitas yang kita geluti sehari-hari?
Seberapa sering kita menganggapnya sebagai sebuah kebenaran mutlak tanpa keinginan untuk menjalani proses verifikasi?
Kita hanya terlampau sering membiarkan pikiran kita diberangus begitu saja terhadap persepsi yang menomorduakan nalar dan fakta.

Kali ini, saya setuju dengan ungkapan dari David Hume, Sang Skeptik Klasik, bahwa kita ini hanyalah sekumpulan persepsi yang berbeda-beda, yang saling bergonta-ganti dengan kecepatan yang tak terbayangkan, dan dalam perubahan atau gerakan terus menerus. Bahkan dalam salah satu bukunya, Filsuf asal Skotlandia ini pernah menuliskan bahwa moral dan kritisisme bukanlah sesuatu yang berpijak pada pemahaman, melainkan sentimen dan selera manusia semata. (An Enquiry Concerning Human Understanding). Kalau sudah begini, maka kita membenarkan kemampuan panca indera dengan penggunaan nalar kita karena kita tidak mampu menghindarinya.

Well, selamat datang di dunia dimana persepsi dengan mudahnya bertransformasi menjadi sebuah ajaran kebenaran. Sementara fakta termarginalisasi begitu saja tanpa mampu mengetengahkan objektifitas.


*Pict source: pinterest

No comments:

Post a Comment


Thanks for visit my blog
Kindly leave your comment here

Regards,
Tika Sylvia Utami
Head of Marketing foodpanda Indonesia | Marketing Communication | Public Relation | Philosophy Universitas Indonesia | Writing, Editing, Journalism | Blogger | Contributor Writer | Digital Media Enthusiast

https://soundcloud.com/tika-sylvia-utami
Twitter: @Tikasylviautami

Background Rangka